Dibalik Dunia Geisha

 

Geisha and Her Maiko

Geisha and Her Maiko

photo: upload.wikimedia.org

Pernah menonton film Hollywood yang berjudul Memoirs of Geisha? Ya, film laris yang diangkat dari novel karangan Arthur Golden ini berfokus pada lika-liku kehidupan Geisha cantik bernama Sayuri. Namun, adapakah sebenarnya geisha itu? Apakah benar kehidupan mereka sedramatis tokoh utama di dalam novel dan film tersebut? Geisha adalah seniman-penghibur tradisional Jepang. Tradisi Geisha sudah berlangsung lama di Jepang dan saat ini masih berlanjut. Meskipun banyak yang berpikir bahwa Geisha tidak berbeda dengan pelacur, sebenarnya terdapat perbedaan jauh antara Geisha yang sebenarnya dengan konotasi negatif tersebut. Tidak gampang untuk menjadi seorang Geisha. Bahkan, pendidikan menjadi seniman-penghibur ini berlangsung dari usia dini.

Geishas

Geishas

photo: i2.cdn.turner.com

Geisha bukan merupakan profesi yang dapat diambil seenaknya. Ada aturan dan adat yang harus ditaati oleh wanita yang ingin menjadi Geisha. Sejak kecil, anak-anak perempuan dididik di Okiya, rumah Geisha. Zaman dahulu, biasanya anak-anak perempuan dari keluarga miskin yang diambil dan dibawa ke Okiya. Pada tahun pertama, gadis-gadis kecil tersebut menjadi pembantu di Okiya. Setelah beberapa tahun, mereka naik pangkat menjadi geisha pemula atau Maiko. Setelah menjadi Maiko, mereka harus belajar berbagai macam kesenian tradisional Jepang seperti menyanyi, bermain alat tradisional, menari dan masih banyak lagi. Selain kesenian, Geisha pun mempelajari sopan santun, cara berbicara dengan tamu, cara membawa diri dan berbagai hal yang membentuk sifat dan sikap agar menjadi wanita yang anggun.

 

Okiya

Okiya

photo: zaraalexis.files.wordpress.com

Hal menarik lain dari Geisha adalah penampilannya. Geisha menghabiskan waktu lebih dari 1 jam untuk mengaplikasikan riasan tradisional. Kulit mereka diberi riasan putih.  Alis mereka digaris dengan pinsil alis hitam dan bibir dilukis dengan merah pekat. Geisha pun begitu identik dengan kimono cantik berwarna-warni. Bayangkan, baju kimono yang dikenakan memiliki 12 lapisan, tidak kurang dan tidak lebih. Dari kimono, mereka pun merias rambut yang sudah diberi wax dan ditata dengan wig dengan berbagai hiasan rambut yang selaras dengan kimono yang dikenakan. Geisha tidak terlalu sering mencuci rambutnya. Dalam sebulan, mereka hanya keramas 2 kali saja. Hal ini karena tatanan rambut mereka yang begitu rumit. Jadi, jangan bayangkan menjadi Geisha itu mudah. Sama sekali tidak.

Making Up

Making Up

photo: galleryhip.comcтоимость продвижения интернет магазиновincall escorts dubaiпохудеть братевокомпания май турсрочные займы с переводом на картупосуда купить онлайнпродвижение бренда банкатур африка танзани¤сафари туры в африкунациональный парк килиманджаро планировкатур танзани¤килиманджаро тур лемошовосхождение на килиманджаро укрденьги в долг 1000 рублейсоздать ios приложениекрышка для кастрюлиtop local seo companiesюридическая компания харьковпроект дома из сип панелей.

About the Author

Martial Artist

Leave A Response