10 Lokasi Tujuan Terbaik di Tokyo

Saya suka Tokyo! Kukira saya tak akan pernah mengatakannya. Namun setelah menghabiskan 10 hari di sana, Tokyo telah menjadi kota favoritku di dunia (melebihi Paris!!) Saya selalu menjadi gadis kota, meskipun mencintai alam, saya tak pernah bisa tinggal terlalu jauh, atau terlalu lama dari belantara listrik dan beton. Dan saya takut jika tak bisa tinggal lebih lama dari Tokyo, belantara yang paling beradab dan terorganisir dari semuanya. Saya mengingap di sebuah hotel besar di Tokyo, dekat stasiun bawah tanah yang sangat sempurna karena saya bisa mengakses seluruh kota dengan mudah. Sebagian besar objek wisata di Tokyo bisa ditempuh dengan jalur kereta (JR Pass yang tiba tepat waktu), dan meskipun besar dan awalnya sedikit menakutkan, Anda bisa berada di bagian manapun dalam kota dalam waktu yang singkat.

Tokyo merupakan tujuan pertama kami di Asia, dan dibandingkan dengan semua tempat yang telah kami kunjungi sebelum (maupun sesudahnya), Tokyo merupakan dunia yang sama sekali berbeda. Jika saya harus merekomendasikan satu kota untuk dikunjungi (mengingat bahwa Anda bukanlah orang Jepang), saya akan menyarankan Tokyo. Anda tahu, saya cinta kota ini! Bukan hanya karena kota ini mewakili puncak-puncak peradaban, hukum, ketertiban dan fashion, namun juga karena dari sekian banyak tempat yang pernah saya kunjungi, kota ini merupakan salah satu yang paling menonjol.

Berikut ini merupakan daftar tempat tujuan di Tokyo berdasarkan pengalaman pribadi kami dan disusun tanpa urutan tertentu. Silakan menambahkan lokasi favorit Anda di Tokyo pada kolom komentar di bawah.

Shibuya 109 & Shibuya Crossing

Shibuya Crossing 2

Shibuya Crossing

Photo : Laura Orange
Shibuya merupakan titik utama fashion Jepang dan kiblatnya para penggila mode. Dan hal tersebut membuat saya semakin terpesona. Mungkin saya sudah menjadi seorang gadis Shibuya di dunia lain yang paralel. Cara para gadis berbusana, lensa kontak yang membuat mata mereka nampak besar, renda-renda, kaos kaki warna-warni, dan pita, semuanya adalah gaya-gaya elegan yang pernah saya saksikan. Saya selalu merinding saat teringat pada pengalaman berbelanja di sepanjang butik trendi di Shibuya 109. Saya telah meninggalkan sebagian hati di sana, dan semenjak itu, saya selalu ingin mengunjungi kawasan itu kembali.

Shibuya Crossing hanya ditempuh beberapa menit dari Shibuya 109, dan di luarnya berdiri Stasiun Shibuya dengan pelayanan dari Jalur JR Yamanote. Persimpangan yang pernah dipopulerkan oleh film Lost in Translation ini merupakan salah satu kawasan tersibuk di dunia dan intisari dari kekacauan yang teroganisir.

Lampu lalu lintas yang berubah menjadi merah pada saat bersamaan, dan selama beberapa menit para penyebrang memenuhi persimpangan seperti kacang tumpah dari kaleng. Anda bisa mengamati lampu-lampu terang dan kerumuman dari Starbucks yang terletak di sisi utara persimpangan, atau menikmati semua kegilaan itu sendirian.

Saya dan suami menyebrang jalan beberapa kali hanya untuk bersenang-senang dan tidak sekalipun kami menyenggol orang lain, begitu juga sebaliknya. Semuanya terlihat damai dengan kecepatan langkah yang berbeda-beda namun terlihat serempak. Jika ini bukan contoh tertinggi dari peradaban, saya tidak tidak akan bisa menjelaskannya lagi.

Kuil Meiji

Meiji Shrine

Meiji Shrine

Photo : Laura Orange
Kuil Meiji merupakan kuil Shinto yang terletak di Shibuya Ward, di tengah hutan cantik dengan gerbang Torii yang besar dan mengarah ke ruang utama sehingga bisa diakses dari Stasiun Harajuku di Jalur JR Yamanote. Kuil ini didirikan untuk menghormati roh Kaisar Meiji dan istrinya, dan sekarang menjadi lokasi favorit untuk upacara pernikahan.

Kami sangat beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan prosesinya. Upacara dipimpin oleh dua imam dan sepasang gadis kuil, pasangan pengantin dinaungi payung merah besar. Rombongan tersebut diikuti oleh anggota keluarga dan teman-teman pengantin.

Namun kami sangat terkejut oleh berkurangnya peserta upacara dan ekspresi yang kurang ceria. Rupanya upacara pernikahan Shinto sangat serius dan cukup unik. Selain itu banyak juga para jemaat yang berdoa di sekitar kuil, dan para gadis muda yang mengenakan kimono cantik. Berbeda dengan Taman Yogoyi yang terletak di dekatnya, Kuil Meiji merupakan tempat untuk merenungkan Japan di masa silam dan tradisinya.

Taman Yoyogi Park di Hari Minggu

Taman Yoyogi

Taman Yoyogi

Photo : Laura Orange
Tiada tempat yang lebih baik di Tokyo dibandingkan Taman Yogoyi. Taman yang sangat populer di kalangan anak-anak muda, khususnya di hari Minggu. Dan Anda bisa menyaksikan kegilaan dari sebuah bangsa. Kami melihat para gadis yang berbusana Lolita, dan perempuan berkelas yang menikmati anggur dari gelas kristal sambil duduk beralaskan tikar piknik, para pasangan yang dimabuk asmara, pertemuan klub, remaja berlatih drama, dan para tunawisma yang mengangkut kucing mereka di atas troli supermarket.

Semuanya berlangsung begitu saja seakan tidak ada yang mau keluar dari kawasan ini. Taman ini sangat luas dan tidak terkesan ramai, dan sekali lagi, ini merupakan bakat khas dari orang-orang Jepang, meskipun Tokyo merupakan kota metropolitan paling padat di dunia, kami tak pernah merasa dijejali oleh jumlah manusia di sekelilingnya.

Kuil Zojoji

Kuil Zojoji

Kuil Zojoji

Photo : Laura Orange
Di dekat Tokyo Tower, Zojoji merupakan kuil Buddha, pusat dari sekte Jodo di Wilayah Kanto. Kuil ini berasal dari abad 14, meskipun telah dipindahkan ke lokasi awalnya di akhir abad 16. Akibat Perang Dunia II, kuil ini rusak parah sehingga kebanyakan bangunan merupakan hasil rekonstruksi, namun masih nampak menakjubkan.

Kuil ini dikelilingi oleh hutan raya dan terpisah dari kepadatan lalu lintas di sekitarnya. Tempat ini sangat tenang sehingga menarik minat para pengunjung untuk meditasi dan kontemplasi, kucing-kucing yang tidur santai di dasar kuil merupakan buktinya. Di balik Aula Utama, ada sebuah makam dan enam Shogun Tokugawa dikubur di dalamnya.

Namun bagi saya, ciri terunik dari kuil ini masihlah Unborn Children Garden. Deretan patung batu yang indah dan mewakili bayi-bayi yang tak terlahirkan, mengalami keguguran, aborsi atau meninggal saat lahir. Patung-patung tersebut dihiasi oleh para orang tua dengan baju bayi dan kincir angin bagaikan malaikat-malaikat kecil yang konon membantu anak-anak menuju alam baka. Pemandangan tersebut sangat sedih sekaligus indah.

Kafe Kucing

Tokyo Cat Cafe

Tokyo Cat Cafe

Photo : Laura Orange
Bahkan sebelum berangkat ke Jepang, ada 2 hal yang telah saya persiapkan di sana; makan sushi dan mengunjungi kafe kucing. Saya sendiri merupakan seorang perempuan penggila kucing (bahkan suamiku pun mengatakan hal yang sama). Sehingga saya pun sangat ingin segera memuaskan kecintaan tersebut di sebuajh lokasi lain di ujung dunia ini. Kafe ini terletak di Ikebukuro, di lantai 5, namun saya tak sedikitpun ragu. Mungkin inilah tempat paling sempurna di Tokyo dengan sofa-sofa nyaman, komik, mainan kucing, dan lebih banyak kucing daripada manusia. Bola-bola bulu terdiri dari banyak warna dan ukuran.
Kami harus menanggalkan sepatu dan menggantinya dengan selop yang telah disediakan. Kami menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk membaca aturan dalam Bahasa Inggris sementara staf hanya menjelaskan dengan Bahasa Jepang dan kucing hanya mengeong.

Kami sepakat untuk tidak menggendong kucing atau mengganggu mereka jika mereka nampak kesal. Semuanya kami nikmati dalam suasana tenang dan sebetulnya sangat tepat untuk tidur siang. Dan setiap orang seperti hampir berbisik. Ada mesin pembuat teh dan jus dan kita bisa memotret tanpa flash. Dengan biaya tambahan, Anda bisa membeli makanan kucing. Sepanjang sejarah dan tempat lain di dunia, inilah tempat di mana kucing dihormati sedemikian tinggi.
Meskipun demikian, kucing-kucing tersebut seperti para bangsawan. Mereka nampak tak tertarik pada mainan-mainan yang saya mainkan di depan mereka. Mereka bahkan hampir tak pernah memperhatikan saya sama sekali. Tetapi tempat ini sangat saya rekomendasikan bagi siapa saya yang mencintai kucing.

Tokyo Tower dan Tokyo Skytree

Tokyo Tower

Tokyo Tower

Photo : Laura Orange
Tokyo Tower merupakan daya tarik populer yang ketenarannya menyerupai Menara Eiffel. Namun saya bertanya-tanya ketika Tokyo Skytree menjadi pesaing baru yang mungkin akan menjadi daya tarik lain bagi para wisatawan. Bangunan ini setinggi 634 meter dan selesai dibangun tahun 2012 lalu.

Tingginya melebihi Tokyo Tower yang hanya sekitar 333 meter. Mereka berdua adalah bangunan dengan struktur tertinggi di Jepang. Jika Tokyo Tower dihangatkan oleh cahaya oranye dan putih di malam hari, Skytree dibalut oleh lampu-lampu sirkus setiap malam. Waktulah yang akan menentukan mana yang akan paling sering dikunjungi oleh wisatawan.

Kuil Senso-ji

Senso-ji Temple

Senso-ji Temple

Photo : Laura Orange
Ini merupakan kuil tertua di Tokyo dengan Kaminarimon (Gerbang Petir) sebagai simbol kota. Untuk mencapai kuil, Anda akan menempuh perjalanan sekitar 200 meter di mana kita bisa berbelanja di sepanjang jalan mulai dari cemilan, boneka Hello Kitty, pernak-pernik dan gulungan Buddha.

Di dekat Aula Utama, ada Kuil Asakusa dan pagoda bertingkat 5. Kedua lokasi di sekitar kuil dan jalanan sangat padat ketika kami di sana. Tempat itu merupakan kuil Budha pertama yang kami kunjungi di Jepang dan saya sangat terkejut melihat jumlah jemaat yang lebih banyak dari para wisatawan.

Meskipun menjadi sebuah kota metropolis modern, para warga Tokyo masih berpegang teguh pada tradisi mereka (jauh lebih kuat dari dunia Barat). Kuil ini juga menyimpan sebuah kisah yang sangat menarik. Di abad ke-7, dua orang pemancing menemukan patung Kannon di sungai. Kepala desa setempat pun akhirnya mengakui kesucian dari patung tersebut, lalu memutuskan untuk mengubah rumahnya menjadi kuil.

Bangunan Pertama Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo

Tokyo Metropolitan Government Building No. 1

Tokyo Metropolitan Government Building No. 1

Photo : Laura Orange
Inilah gedung Balai Kota Tokyo, dengan ketinggian 243 meter sekaligus menempati peringkat ke-7 sebagai bangunan tertinggi di Jepang. Gedung ini dibangun menyerupai chip komputer dan Katedral Gothik, dan membuatnya sebagai lokasi pantau terbaik di Tokyo. Di hari yang cerah, para pengunjung bisa menikmati keindahan Gunung Fuji dari kejauhan, tapi pemandangan langit malam juga sangat menakjubkan.

Ada sedikit bangunan di Tokyo yang menyediakan spot pantau di mana kita bisa menikmati kota dari atas. Beberapa tempat bisa diakses gratis, seperti halnya bangunan ini yang memang dimiliki oleh Pemerintah, sedangkan tempat lain memungut biaya. Maksud saya, menikmati kecantikan kota dari atas merupakan pengalaman berbeda saat menikmatinya dari ketinggian biasa.

Selain itu, Anda bisa menikmati sensasi penemuan yang tak akan ada habisnya. Menaiki lift yang berputar tiada henti hingga ke lantai terakhir juga merupakan hal yang sangat luar biasa. Dalam perjalanan hening sekitar 200 meter, lift yang Anda naiki serasa tak bergerak.

Tokyo di Malam Hari

Tokyo Malam Hari

Tokyo Malam Hari

Photo : Laura Orange
Meskipun menjadi sebuah kota yang tak pernah tidur, suasana di Tokyo bisa sangat sunyi di malam hari. Saat kami jalan-jalan di sekitar pukul 10, bangunan-bangunan tinggi yang menjulang ke langit dan trotoar nampak terlelap.

Baiklah, saya tidak bicara tentangh Shibuya atau Ikebukuro yang menjadi kawasan anak-anak muda dan tak pernah sepi. Namun saya sedang berada di kawasan bisnis dan pemukiman. Ada jeda sekitar satu jam antara senja dan berakhirnya jam kerja saat gedung-gedung pencakar langit di Tokyo mulai menyala dengan indahnya.

Namun saat malam kian menjelang, orang-orang pun beranjak pulang dan bangunan-bangunan tinggi tersebut berubah menjadi monster-monster hitam yang menantang langit.

Setiap detil perbedaan yang silih berganti tersebut selalu membuat saya takjub. Saya yakin bahwa Anda belum punya banyak pengalaman di Tokyo hingga Anda benar-benar merasakan sendiri suasana di malam hari dan bagaimana segala perubahan tersebut terjadi.

Toko Komik (Manga Shop)

Toko Komik

Toko Komik

Photo : Laura Orange
Saya bukan pembaca komik. Meskipun saya juga mengakui bahwa ada beberapa film animasi Jepang yang sangat saya sukai. Namun saya yakin bahwa setiap wisatawan sebaiknya mengunjungi toko komik. Setidaknya satu saja. Dan jika Anda melakukannya, pastikan bahwa Anda mengambil satu cerita yang masuk dalam genre. Anda tak perlu membeli sebuah buku. Apa yang Anda lakukan hanyalah mengamati sekitar dan mendapati diri Anda berada di tengah-tengah kebudayaan lokal.

Saya tak pernah membayangkan bagaimana realitas telah menginspirasi manga, atau bagaimana kebudayaan manga sangat berpengaruh pada keseharian kaum muda Jepang, hingga saya akhirnya menjejakkan kaki di Tokyo. Kesan pertama saya tentang Tokyo, “Ini adalah dunia manga!”, dan sampai batasan tertentu, memang itulah kenyataannya.

Lampu-lampu neon yang menyala terang, gambar warna-warni yang bahkan menutupi lantai toko, televisi-televisi dengan volume kencang yang memainkan beberapa film berbeda dalam satu waktu, sehingga menimbulkan kebisingan dan sangat menyulitkan (saya) untuk membaca buku.

Para pengunjung yang terdiri dari anak-anak muda dengan busana pelajar, sehingga membuat saya sangat mencintai ini. Saya yakin bahwa kebanyakan toko buku di Eropa pasti menginginkan suasana semacam ini dengan para kustomer yang berdedikasi. Bangsa Jepang dikenal sangat suka membaca banyak hal dan sudah sangat umum jika kita bertemu dengan orang-orang dari berbagai kalangan usia yang membaca manga di kereta api.

Daftar dari 10 tempat untuk dikunjungi di Tokyo di atas memang subjektif. Namun, ada begitu banyak yang harus dialami dan ditemukan di kota yang menakjubkan ini. Menghabiskan malam di ryokan, makan siang atau makan malam di warung mie dan duduk bersampingan dengan penduduk setempat, menghadiri festival (ada banyak pilihan seperti Festival Musim Gugur Ikebukuro, Jidai Matsuri di Kyoto, sebuah festival jalanan di Nagoya dan festival di Arashiyama) dan selalu banyak kemungkinan tak terhingga di sekitar Tokyo.

Informasi Penting:
Transportasi: Cara terbaik untuk melakukan perjalanan di seluruh Jepang adalah dengan menggunakan Japan Rail Pass, cara yang sangat mudah dan ekonomis. Untuk mengetahui rute-rute kereta rute dan panduan kota, Anda bisa mengeceknya di Japan by Rail.

Cara menuju ke sana: Ada banyak penerbangan ke Tokyo dari Eropa dan AS. Air Canada dan Alitalia merupakan dua perusahaan yang hanya memiliki penerbangan reguler ke Jepang. Jika Anda merencanakan perjalanan tepat waktu, Anda bisa mendapatkan beberapa penawaran yang cukup bagus.

Bacaan lebih lanjut:
Sebelum pergi ke Jepang, kami sangat menyarankan Anda untuk membaca buku-buku berikut supaya bisa lebih memahami budaya dan gaya hidup di sana: A Geek in Japan dan Japan: The Essential Guide to Customs & Culture.

Penginapan: Kami menghabiskan beberapa malam di Kimi Ryokan dekat dengan stasiun kereta api Ikebukuro. Kami menyukai pengalaman tinggal di penginapan tradisional Jepang, serta lingkungan sekitarnya.

Source Artikel dan Photo : Laura Orange (www.travelocafe.com)продвижение яндексindian female escortsroyal thermoтур на майские из запорожьяденьги в долг в электросталитовары для дома и интерьераtranslation english to spanishaltezza climbing limitedсрочно нужны деньги гомельвосхождение на килиманджаро карта маршрутаотдых в россии май 2015туры в африкутуры в танзанию, занзибаркилиманджаро тур танзани¤разработка по iosинтернет магазин посуды кастрюлиpainter drawingразработка и продвижение бренда личногокерамические сковородки москва.

About the Author

Leave A Response